Menangis Itu Romantis

"Aku hanya ingin menangis saja. Percayalah, tangisku melebihi duka yang tak mampu kutebus. Aku hanya ingin menebus penyesalanku, atas kekhilafanku saat ini, atas segala hal yang telah membuatku terlena."


Lebih kurang, begitulah ungkapan rasa dari sahabatku malam ini. Seminggu lalu, ia menangis sesegukan. Dan, baru hari ini ia berani menceritakannya. Bahwasanya, ada yang harus ia lakukan untuk menangis. Ia bukan putus bercinta atau pula sedang menolak hati seorang gadis. Bukan! Baginya juga, sendiri sampai akad itu melebihi romantisme berpacaran.

Baca Juga :

Menangisnya yang dianggap romantis, ketika ia mengingat kembali akan kelalaiannya selama ini. Jadwal hafalannya yang telah berkurang, waktu salatnya yang kian lalai, atau bahkan segala kewajiban dan sunnah yang telah mulai ia lupakan.

Sebenarnya saya bersyukur atas segala hal yang ia ingat. Ada yang masih membukakan pintu hatinya ketika kelalainnya atas duniawi ini. Hingga pada malam itu, setelah Salat Isya', ia menangis sesegukan atas kekhilafannya. Atas dosa-dosanya pada Allah. Pada kesibukan duniawi yang kian mengusiknya. Dan, ia kembali ke jalan Allah untuk menemukan jati dirinya lagi. Menemukan di mana hatinya sempat terjatuh di jalan kelalaian.

Berarti, menangis itu romantis ketika diri ini mampu menangis sesegukan ketika kesalahan kita. Menangis itu lebih romantis, ketika saatnya kita sadar bahwa yang namanya pulang/ajal kian detik mengintai. Bahwa menangis ialah cara kita mengingat diri untuk bermesraan bersama-Nya. Berdua saja. 

Artikel By : Arifrahmanko   

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment