Sekelumit Lukisan Tuhan Nan Indah di Takabonerate, Sebuah Perjalanan Sisi Lain Tanah Daeng

Pernah mendengar Takabonerate? Menyebut namanya saja membuat lidahku hampir keseleo karena sangat susah untuk mengejanya. Tapi kalin ini, Takabonerate menjadi perjalanan (mungkin) paling jauh yang saya kunjungi di tahun 2017 ini. Sebenarnya, Takabonerate menjadi perjalanan pertama saya yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam barisan tempat tujuan saya selain pelaminan (eh kecoblosan)

Perjalan ini menjadi perjalan pertamaku yang "dipaksa" teman yang hampir berjam-jam ngedoktrin dengan fhoto-fhoto pemnadangan yang jujur membuatku gak kuat menahan iler melihatnya dan juga segala macam rencana perjalanan serta perkiraan budget share cost per-orangnya. Well, sekuat apapun saya menahannya, ternyata rapuh juga dinding pertahananku, pun akhirnya saya harus mengunjungi tempat ini dengan ekspektasi yang tinggi.

Takabonerate Via http://www.tracesme.com

Perjalanan Nan Panjang Pun Dimulai, Siap-siap Menguras Tenaga dan Keuangan. Ganbatte !!!

Perjalanan ini pun dimulai dengan mengangkasanya pesawat berlogo singa merah dari Bandara Soetta menuju Sultan Hasanuddin, Makasar. Setelah 2,5 jam "duduk" di udara, kamu bertiga sampai di Makassar jam 08.00 WITA. Kami, oiya nyaris lupa menyebut formasi pejalanan  ini. Saya berangkat dari Jakarta bersama Bang Roni dan Melvin, sementara Suryo terbang dari Bali. Dan singkat cerita, kami pun sudah sampai ketujuan dengan lengkap formasi yang lengkap.



Lebih Istimewa dari Cherrybella, Bayi-Bayi Hiu Akan Membuatmu Terpesoan Dengan Pulau Tinabo

Satu hal yang menjadi ciri khas Pulau Tinabo adalah banyaknya bayi-bayi ikan hiu yang tidak mungil karena badannya saja lebih besar dan panjang daripada betisku. Mereka bayi-bayi manja seperti aku *uhuk* yang main-main di pinggir laut, bukan di tempat penangkaran yaaa. Itu dikarenakan kebiasaan orang-orang yang berkunjung ke Tinabo sambil memberikan makanan untuk bayi-bayi hiu tersebut, jadilah mereka senang berada di pinggiran laut. 



Badannya saja yang besar, bayi-bayi hiu sangat pemalu jika di dekati dan gampang terusik dengan suara berisik, kecuali kamu punya makanan untuk mereka. Malu atau songong sik? Hahaha… Dan tenang saja kamu tidak perlu takut digigit karena bayi-bayi hiu ini nurani ke-kanibalan-nya belum ada. Tapi jangan coba-coba kamu nyemplung dengan ada bagian tubuh yang berdarah yaa atau bagi yang cewe sambil bawa tamu bulanannya, siap-siap aja dengan kejadian terburuk. So, be a smart traveler ya, guys!

Sunsednya Tak Kalah Menawan, Siapa yang Tak Mau di Sapa Oleh Sunsed Nan Menggoda, Raisa Mah Lewat Buat Sementara

Terakhir, sunset di Tinabo super gilak! Seperti tidak ada pembatas apapun antara bumi dan langit, matahari yang perlahan turun dengan anggun menyebarkan cahaya oranye sempurna keseluruh langit. Rasanya mata tidak rela berkedip bahkan untuk sekejap. Belum pernah ku temukan di tempat wisata sebelumnya, apalagi di Jakarta. Tidak hanya di Tinabo sebetulnya, di perjalanan pulang menuju Selayar dan di Makassar pun kami masih mendapatkan warna sunset oranye tersebut, dan ku sebut sebagai sunset-khas-laut-Makassar yang tidak ada duanya.

 

Oh yaa, untuk detail perjalannanya kanu bisa cek di blogger sahabat saya si Diana di http://www.tracesme.com. Untuk biaya perjalananya juga bisa dicek secara detail disana, dan jika kamu ingin mengunjungi kesana, bisa minta kontak diana ke saya atau langsung hubungi doi via email.

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment