Kisah Ini Untukumu, Rindu yang Bukan Menjadi Milikku Lagi

Di setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Pun begitu dalam setiap kisah cinta dua insan manusia. Pertemuan di antara kita sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa, bukan sebuah kebetulan belaka. Tapi pada akhirnya, selalu ada jalan untuk mengakhiri sebuah kisah cinta.

Datangnya tak pernah direncanakan, begitu tiba-tiba bagaikan petir yang menyambar di siang hari yang cerah berawan. Kepergianmu meninggalkan lubang yang begitu besar di hatiku, seolah ada sesuatu yang hilang begitu saja. 

Rindu itu Datang tak diundang

Aku tak bisa menerima fakta bahwa kau bukan lagi orang yang kumiliki. Rasanya seperti kemarin, ketika kita berdua masih berbagi tawa dan tangis bersama. Tapi kini, hatimu telah melanglang jauh meninggalkanku.

Sebenarnya apa salahku hingga kamu memutuskan untuk meninggalkanku? Rasanya begitu tak berdaya, kau pergi setelah merampas setengah dari jiwaku yang begitu berharga. Tanpa kabar, tanpa berita. Kau menghilang begitu saja.


Aku bukannya tak berusaha keras untuk mempertahankan hubungan ini. Hati dan pikiranku seakan melawan kehendak Yang Maha Kuasa untuk membolak-balikkan hati siapapun. Aku rela kehilangan segala yang kumiliki, asal bisa tetap memilikimu.

Berusaha Keras

Tapi tidak, kau tetap saja pergi...


Kehilangan yang paling menyiksa adalah menyaksikan orang yang kucintai membawa setengah jiwa pergi jauh. Kekosongan ini begitu menyiksa, seolah aku jatuh ke dalam sebuah lubang tak berdasar yang begitu gelap tanpa ada setitik pun cahaya. Duniaku tanpa dirimu, begitu gelap bagai siang tanpa matahari.

Apa aku boleh menyebutmu terlalu keterlaluan? Setiap tamu pada akhirnya tentu akan pergi, mungkin aku juga salah selama ini aku menuntun dan menghadapkan kesabaranku pada satu kata: menunggu. Tapi nyatanya, aku tak menunggu apa-apa. 

Aku pernah menunggu kehadiranmu dengan cara yang berbeda, kedatangan dan caramu memperlakukanku yang sama sekali tanpa dinding. Tak bisakah aku menemukan sosokmu yang asli? Ada sesuatu yang demikian lain dari yang aku tau, aku sungguh tak mengerti. Tolong, jangan pernah ucapkan rindu yang tak akan pernah bisa aku miliki, aku sudah memelihara istanaku, dua puluh empat jam sehari. 

Jika kau akan pergi, maka pergilah dengan tenang, tanpa harus berkali-kali menghadirkan rasa sakit. Jika kau ingin kembali, kembalilah dengan benar, tanpa pula menghadirkan dan meninggalkan rasa sakit. Jangan lagi menghadirkan rindumu yang tak bisa kumiliki.


Mau jadi apapun kamu dalam hidupku, pacar, mantan, teman, kakak, adik, saduara bahkan musuh sekalipun. Kamu sudah punya porsi sendiri dihati ini. Sudah punya cerita sendiri di hidup ini. Jalani saja, menyatu tak harus dalam satu ikatan, cukup batin yang terekat kuat.

Dan akhirnya, aku tak bisa selamanya meratapi kepergianmu. Kenangan bersamamu mu memang seperti sebilah pisau tajam yang menghujam hati. Satu-satunya cara untuk terbebas dari rasa sakit ini hanya keikhlasan hati. Aku harus bisa menerima kenyataan bahwa sudah tak ada “kita”, kini hanya “aku” dan “kamu”.

Ya, kini akhirnya aku bisa merelakan kepergianmu dengan ikhlas. Terima kasih untukmu, yang tak bisa kumiliki lagi.

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment