Semoga Kau Tenang di Sisi-Nya, Bapak yang (lagi) Gagal Menjadi Calon Mertua Ku

Setelah bergulat dengan kerasnya Kota Jakarta, Aku pun memutuskan untuk tinggal bersama keluarga di salah satu kota di Sumatra. Bukannya aku tak sanggup hidup di Jakarta, hanya saja banyak prinsip yang tidak sesuia dengan hati nuraniku.

Sejak mentari memancarkan cahaya kehangatan sampai dengan sang bulan dan bintang mennggantikannya dengan senyuman di malam hari. Aku selalu menghabiskan waktuku bersama keluargaku dan membantu usaha yang dijalankan mereka sehingga aku dan saudaraku bisa menyelesaikan pendidikanku di tingkat sarjana.
 
Kenalan dengan Camer Via hipwee.com
 
Mungkin hari ini merupakan salah satu hari yang paling bahagia dalam hidupku. Dan akan selalu kukenang selama Tuhan masih mengizinkan ku tuk bernafas, akan menjadi pelajaran hidup yang berharga untukku dan akan selalu ku catat di dalam sanubariku.

Berawal dari Langganan Ibuku, dan Berakhir dengan Pembicaraan Jodoh

 
Dia memang salah satu langganan ibuku berbelanja dan tak lupa saling menyapa, mulai dari masalah yang sepele sampai dengan kehidupan pribadi beliau. Dan tak sengaja, pertemuan itu beliau langsung menanyakan identitas diri saya sampai dengan masalah pendidikan dan pekerjaan. 

Dia pun mulai pembicaran yang membuat darahku semakin deras mengalir dan jantungku merasa copot dengan perkataannya. "Wanita tidak harus mesti bekerja, wanita cukup ikut suami dan mendampingi suami." Ucap beliau dengan santai layaknya seorang Ayah kepada anaknya. "Saya punya putra, siapa tahu cocok." Lanjutnya. Hati saya berdesir. "Bapak bawa saja anaknya kemari." Respon ibu dengan cepat.

Waktu terus berjalan dan setiap minggu sering mampir, terkadang tidak lupa membawa buah tangan yang dikhususkan untuk saya sebagai cemilan, walaupun yang dibuat penasaran tidak menghadirkan diri "Mainlah ke rumah." Ucap beliau sambil menjelaskan dengan detail dimana beliau tinggal. "Anak saya pemalu dan tidak banyak bicara. Dia hanya menyibukkan diri dengan bekerja."
 

Selama 70 Tahun, Ikhlas Merupakan Kunci Hidup Bahagia Ala Calon (gagal) Mertua Ku

 
Hidup itu harus ikhlas. Usia saya saat ini sudah 70 tahun lebih. Saya sudah berjalan kemana-mana, rasanya semuanya sama. Benda-benda hanya berupa benda mati, walaupun barang mewah, tetaplah benda tak ada yang istimewa walaupun mewah. Tetap barang mati. Hidup mensyukuri apa yang ada, dapat berkumpul dengan keluarga, dan sehat itu sudah suatu nikmat yang luar biasa." Ucap beliau dengan rendah hati. 

Sikap beliau memang selalu begitu santai dan sederhana, orang tidak akan menyangka bahwa beliau adalah orang yang berada, halim dan rendah hati jika hanya berpatok pada pakaian yang digunakannya. Delapan bulan saya mengenal beliau, mendengarkan pengalaman hidupnya. Hanya "Ikhlas" yang selalu menjadi amanatnya untuk saya dan saya sangat senang mendengar cerita-cerita beliau.

Diakhir hidup beliau, beliau meninggal di bulan Ramadan awal-awal hari jumat dalam keadaan tertidur dengan damai dikamar setelah ia meminta kepada istrinya membuat bubur.

Aku Hanya Bisa Mendoakanmu Calon (Gagal) Mertu Ku, Semoga Kau Bahagia di Sisi-Nya 


Terimkasih ku ucapkan untukmu yang selalu menerangi hidupku, yang selalu memberiku arti dan makna kehidupan. Hanya sebait doa yang bisa kupanjatkan kepada Sang Maha Kusa, semoga kau tenang di Sisi-Nya.

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment