Maaf, Aku Mencintaimu di Setiap Sujudku

Tak perlu berucap dalam cinta, memandang wajahnya saja sudah cukup membuatku bahagia. Seperti pagi ini, setelah menyeruput secangkir kopi nan hangat, tak lupa aku mengecek media sosialnya, apakah ada fhoto terbaru atau sekedar tausiah di statusnya.

Dia memang gadis yang berbeda, jika gadis seusianya yang suka pamer fhoto dengan lokasi yang indah nan menawan, tapi dia selalu rutin memberikan tausiahnya yang di ambil dari berbagai sumber. Sungguh mulia dirimu, gadis sederhana yang bisa membuatku mencintaimu.


Tapi, aku bukanlah lelaki yang begitu mudah mengungkapkan perasaanku. Aku hanyalah seorang lelaki pengecut. Seorang prajurit yang sudah menyerah sebelum memulai peperangan. Aku tidak cukup nyali dan keberanian, hanya untuk mengungkapkan kata "Maukah Kau Menjadi Kekasih Halalku"

Entah Kapan, Aku Bisa Mengungkapkan Perasaan ini Untukmu , . .


Rasanya, ingin kupinjam lidah para sang penyair atau otak para politisi yang bisa mengumbar janji dengan mudahnya. Entahlah, sampai kapan diri ini tak mampu mengungkapnnya. Memang setiap manusia mempunyai kekurangan, tetapi kenapa?

Kekurangan mengungkapkan perasaan ini dianugrehkan kepadaku? Aku harus bagaimana, apakah aku harus mendaki gunung dan menulis namamu dalam sebuah kertas dengan tulisan " Hey Kau Gadis Manis, Menikahlah Denganku"

Atau aku harus menyelami lautan samudera dan berucap kepada ikan memo, tolong sampaikan padanya bahwa aku ingin mendampingi hidupnya dalam suka dan duka.

Tuhan, Sampaikan Rasa Rinduku Untuknya , . .


Memang, sang pencipatalah yang menjadi jalan utama untuk menyampaikan salamku padamu. Semoga doa-doaku disetiap penghujung sholatku disampaikan oleh malaikatnya kepadamu. Hanya ini harapan terakhirku.

Harapan dalam penuh doa yang tak berhenti, seperti hembusan nafas ini yang masih menyatu dengan tubuh ini. Semoga kau mendengar doa-doaku yang telah kutitipkan kepada Malaikatnya.

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment