Teruntuk Dirimu yang Selalu Kudoakan di Keheningan Malam

Sejak kepergian dirimu meninggalkan luka yang dalam dan akan selalu membekas di hati. Tersirat keinginin untuk menebus semua kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Kamu bilang, kita tidak akan pernah bisa bersatu seperti Bulan dan Matahari.

Bulan yang selalu setia menerangi di malam hari dan Matahari yang menyinari di siang hari. Itulah kita, tidak akan mengkin bersatu. Ungkapmu lirih. Sebenarnya, aku ingin menjawab dari sudut pandangku sendiri, namun bibirku tak sanggup bicara dan hanya bisa diam seribu kata.

http://mandiriransel.blogspot.co.id/2016/06/teruntuk-dirimu-yang-selalu-kudoakan-di.html
Bukankah bulan dan matahari saling melengkapi, sama-sama menyinari dan memberi harapan kepada sang pengharap. Walaupun berbeda ruang dan waktu, bukankah perbedaan itu salah satu ciptaan sang Khaliq yang paling indah di dunia.

Tapi, entahlah apa yang ada didalam pikiranmu. Kubiarkan dirimu melangkah, selangkah demi selangkah di keheningan malam. Dan sampai akhirnya, bayanganmu lenyap bak di telan gelombang tsunami yang dahsyat, mungkin lebih dahsyat dari gelombang tsunami di aceh yang menghancur leburkan kota aceh dalam sekejap.

Sejak malam itu, setiap dipertigaan malam, aku selalu mendoakan dirimu yang telah melupakanku. Kuharap, kamu akan bahagia selalu dengan pilihanmu. Dan begitu juga dengan diriku ini, terimkasih atas semuanya.

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment