12 Wisata Ambon Yang Membuat Liburanmu Semakin Manis

Sahabat, kamu pasti sering dengar dengan guyonan tentang Ambon Manise? Hal ini memang karena orang ambon konon katanya sangat manis-manis tanpa pemanis buatan dan gula.Haha. Sebenarnya ada beberapa alasan kenapa ambon mendapat julukan Ambon Manise. Mulai dari alasan budaya, kuliner sampai dengan lokasi wisatanya yang sangat menawan bagi siapa pun yang mengunjunginya.

Sahabat, apakah kamu sudah pernah berkunjung ke kota Ambon? Ibukota dari Maluku ini merupakan surga wisata dan kuliner loh. Kamu penggemar Scuba Diving, Teluk Ambon adalah salah satu destinasi selam terbaik di Indonesia. Konon seorang ahli ikan Belanda bernama Peter Bleaker menyelam di Ambon pada tahun 1863 dan berhasil menemukan 783 spesies ikan di Teluk Ambon.


Selain dari terkenal dengan tempat scuba diving, berikut ini juga layak kamu kunjungi ketika berada di Ambon dan tentunya membuat liburan kamu semakin manis sahabat. Ayo intip wisata ambon nan manis ini.

1. Benteng Amsterdam


Menuju benteng yang terletak di perbatasan antara Desa Hila dan Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, sekitar 42 kilometer dari Ambon dan dapat ditempuh selama satu jam. Sepanjang perjalanan mata akan dimanjakan dengan pemandangan Teluk Baguala yang berair jernih, pegunungan yang ditumbuhi tanaman pala dan cengkeh saat memasuki kawasan kecamatan Leihitu.

Berdiri kokoh di tepi pantai Desa Hila, benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada 1512 ini lebih mirip rumah dibandingkan dengan Benteng, walau memiliki fasilitas lengkap sesuai standar pertahanan. 

Terdiri dari tiga lantai, dimana lantai dasar dulu difungsikan sebagai penjara dan gudang mesiu. Lantai dua adalah tempat prajurit beristirahat sambil mengawasi keadaan sekitar benteng, sementara lantai tiga paling atas adalah menara pengintai yang dari sini tampak Pulau Seram. Sebelum menjadi benteng peratahanan, bangunan ini adalah milik portugis yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah yang ketika itu nilainya jauh lebih berharga ketimbang emas, sebelum akhirnya beralih fungsi saat pertempuran antara Belanda dengan kerajaab Tanah Hitu pada 1653.

2. Benteng Ferangi


Untuk masuk benteng yang juga disebut Benteng New Victoria atau Benteng Kota Laha ini tidak dikenakan biaya. Merupakan bekas pusat pemerintahan dan tempat penyimpanan rempah-rempah yang di dapat Portugis dari Seluruh Wilayah Indonesia Timur. Diarea sekitar benteng terdapat meriam-meriam lama berukuran raksasa, dibagian dalamnya dipamerkan peta perkembangan kota Ambon dari masa ke masa serta berbagai benda sejarah peninggalan Belanda dan Portugis.

Pada tahun 1575, saat benteng ini didirikan, tinggallah sekelompok masyarakat dengan nama Soa Ema, Soa Kilang dan Soa Silale yang merupakan cikal bakan terbentuknya kota Ambon.

3. Taman Makam Persemakmuran


Memakamkan lebih dari 2.000 tentara sekutu yang gugur melawan Jepang selama Perang Dunia II. Kebanyakan yang dimakamkan disini adalah tentara dari Australia, Belanda, Inggris, India, Kanada, Selandia Baru, Afrika Selatan serta beberapa lainnya yang tak bisa dikenali sehingga di nisannya hanya tercantum asal dan lambang kesatuan dengan tulisan Known Unto God (Hanya Tuhan Yang Tahu).

Dibagian depan makam Perang Ambon terdapat Tugu Ambon (Memorial Buiding Ambon) untuk mengenang 289 tentara dan 171 penerbang dari kesatuan Australia yang diprediksi gugur di Maluku, Sulawesi dan kepulauan sekitarnya, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Nama-nama para tentara itu ditulis pada dinding-dinding tugu, dilengkapi dengan nomor prajurit, pangkat dan jabatan terakhir serta nama asal kesatuan.

4. Taman Pattimura


Di taman ini terdapat patung pahlawan nasional Thomas Matulessy yang bergelar Kapiten (Panglima Perang), menggantikan patung lama yang telah dipindahkan ke kawasan Museum Siwalima. Patung baru ini terbuat dari perunggu dengan tinggi tujuh meter dan berat mencapai empat ton.


Dibuat pematung Rusdian Rachmadi dan dikerjakan di Bandung, detil monumen ini membentuk tanggal 15 Mei 1817 yang merupakan tanggal awal perjuangan Pattimura melawan Belanda. Disinilah juga jenazah Pattimura diletakkan setelah di hukum gantung pada 1817. Taman Pattimura sendiri memilki luas 11.000 meter persegi yang dilengkapi dua lapangan basket dan voli, sebuah air mancur, panggung terbuka, area jogging, dan pagar keliling dengan empat pintu gerbang.

Tidak sulit untuk menemukan taman tersebut karena letaknya diapit oleh Kantor Walikota Ambvon, Gereja Kristen Protestan Maranatha dan Gong Perdamaian Dunia di Persimpangan Slamet Riyadi, Jalan Imam Bondjol dan Jalan Pattimura.

5. Gong Perdamaian Dunia


Terletak di pusat Kota, gong ini merupakan Gong Perdamaian ke 35 di dunia. Tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Ambon, gong ini menjadi kebanggaan Indonesia. Diresmikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 25 November 2009 agar citra Ambon yang dahulu identik dengan kerusuhan dan kekerasan dapat segera sirna.

Gong Perdamaian Dunia ini berdiameter dua meter dan berwarna keemasan. Selain dipenuhi gambar bendera dari 200 negara yang ada di dunia dan sekelilingnya, gong ini juga memuat berbagai simbol agama dan di tengahnya terdapat miniatur bumi. Dengan disangga dua pilar raksaasa, di atas gong ini juga terdapat lambang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Atraksi ini buka tiap hari dengan biaya masuk Rp. 5.000 per orang.

6. Pantai Liang


Pantai yang dinobatkan oleh PBB sebagai pantai terindah di Indonesia pada 1991 ini dikenal juga dengan nama Pantai Hunimua. Memiliki hamparan pasir putih yang berpadu dengann perairan keburuan, ombak di pantai ini pun tidak terlalu besar sehingga cocok untuk bermain air.


Untuk membersihka diri, terdapat jejeran kamar mandi umum. Mereka yang gemar berjemur pun bisa menggelar tikar sembari membaca buku hingga matahri terbenam. Pantai ini terletak di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, atau sekita 40 kilometer dari pusat kota. Untuk masuk Pantai Liang, dikenakan biaya retribusi sebesar Rp. 15.000 per orang.

7. Monumen Martha Christine Tiahahu


Terletak di Karang Panjang, menuju monumen ini haruslah melewati jalan menanjak dan beberapa tikungan tajam sebelum tiba di lokasi yang bersebelahan dengan Kantor DPRD Maluku. Menurut penuturan saksi, dalam pertempuran melawan Belanda, Martha Cristina Tiahahu melemparkan batu ke Tentara Belanda ketika pasukannya kehabisan Amunisi.

Karena nekad melawan senjata api dengan batu, masyarakat Maluku menjulukinya sebagai seorang wanita kaberessi (pemberani). Tempat ini paling pas dikunjungi menjelang matahari terbenam karena letaknya tinggi di atas bukit yang menghadap teluk Ambon. 

Konon waktu pendirian patung ini sangat susah diletakkan karena kurang keseimbangan. Telah dicoba beberapa kali ternyata tidak dapat berdiri dengan baik. Patung baru dapat berdiri dengan posisi seimbang ketika menghadap Laut Banda, tempat dimana jenazah Martha Christina Tiahahu dibuang ke laut.

8. Museum Siwalima


Terletak di kawasan Taman Makmur, Desa Amahusu, Kecamatan Nusaniwe atau sekitar lima kilometer dari pusat kota. Museum ini berada di atas bukit yang menghadap Teluk Ambon. Memiliki dua bangunan utama, yaitu museum etnografi ayng memuat benda-benda yang berhubungan dengan seni dan budaya dari suku asli di Maluku.

Mulai dati Miniatur rumah adat, pakaian tradisional, peralatan rumah tangga, hingga guci-guci peninggalan Jepang. Serta Museum Kelautan yang semua koleksinya berhubungan dnegan kehidupan laut masyarakat Maluku. Buka setiap Senin-Jumat pukul 09.00-16.00 dan Sabtu-Minggu pukul 10.00-16.00 dengan tiket Rp. 3.000 per orang.

9. Pantai Natsepa


Letak pantai ini dari pusat kota hanya berjarak sekitar 18 kilometer dan dapat dicapai menggunakan angkutan umum dari Terminal Mahardika menuju Suli. Seelain berenang di Pantai yang berair jernih, tersedia pula perahu untuk disewa dengan tarif mulai Rp. 20.000 per jam bagi yang ingin memancing di tengah laut.

Yang menjadikan pantai ini terkenal adalah penjaja rujak yang membuka lapak di sepanjang pantai dan biasanya juga menjual kelapa muda untuk dinikmati bersama rujak. Masayarakat setempat maupun wisatawan banyak yang datang kesini hanya untuk duduk-duduk mengudap rujak sambil menyeruput kelapa muda segar di tepi pantai.

10. Pantai Pintu Kota


Pantai Piintu Kota di selatan Ambon, tepatnya di Desa Airwlow, Kecamatan Nusaniwe ini merupakan landmark kota berkat tampilannya yang dramatis. Tebing karang raksasa yang menjoroj ke laut dan berlubang di tengahnya sehingga menyerupai pintu.  Pantai ini memang tak menawarkan pasir putih yang hangat untuk berjemur, melainkan objek fhoto.

Deburan ombak yang menghantam tebing karang adalah objek fhoto terbaik disini. Sebaiknya kosongkan memori kamera dan bila datang di saat yang tepat, percikan air akibat deburan tersebut dapat menghasilkan pancaran warna pelangi. Tiket masuknya Rp. 5.000 per orang dan jangan khawatir bila lupa di sini ada banyak penjual makanan.

11. Mencari Peruntungan di Waai


Terletak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Ambon, desa di pantai timur Leihitu ini terkenal dengan belut raksasanya yang hidup di kolam berair jernih yang digunakan juga oleh penduduk untuk mandi dan mencuci. Karena di anggap sakral, penduduknya tidak pernah memakan ratusan belut jinak jenis Morea tersebut sehingga hewan ini tumbuh sehat dengan panjang mencapai 1,5 meter.

Morea sering bersembunyi di bebatuan sehingga anda harus membayar penduduk lokal untuk memancingnya keluar dengan menjentikkan jari di permukaan air sembari memegang telur ayam. Konon melihat belut ini dipercaya dapat membawa keberuntungan.

12. Mata Air Panas


Di sebelah timur Ambon terdapat sumber air panas alami di pantai, tepatnya di Desa Tulehu. Datanglah sore hari saat air laut surut, berhubung bila sedang pasang air laut akan menutup seluruh sumber air panas alami di pantai. Selain di pnatai tersebut, terdapat belasan titik air panas lainnya di Tulehu.

Termasuk air panas Hatuasa di kawasan perbukitan yang biasanya semakin ramai di malam hari. Suhu air di pemandian ini antara 57 C - 70 C dan dipercaya dapat menyembuhkan rematik, penyakit kulit dan lumpuh karena stroke. Selain terdapat gazebo, ruang ganti, dan tempat karaoke dengan tarif Rp. 2.500 per lagu, banyak penjaja makanan yang menjajakan teh dan kopi hangat, ketela rebus, serta mi resbus untuk mengusir hawa dingin dan rasa lapar. Biaya masuk pemandian yang buka hingga dini hari ini Rp. 5.000 per orang.

Tips Mengunjuni Mata Air Panas
- Bawa peralatan mandi untuk membilas badan setelah berendam
- Jaga barang bawaan karena tidak ada tempat penyimpanan
- Datanglah malam hari karena suhu malam lebih baik untuk kesehatan
- Bawa telur jika ingin merebus di kolam yang airnya sangat panas ini.

Cara Menuju Ambon


Dari Jakarta, penerbangan ke Ambon dapat ditempuh dalam waktu tiga jam 30 menit dengan penerbangan langsung atau sekitar 5 jam bila menggunakan penerbangan transit via Makassar atau Manado. Mengingat perbedaan waktu dua jam antara WIB dan WIT, rata-rata maskapai penerbangan dari Jakarta berangkat pada dini hari agar tiba di Ambon pagi.

Bandara Pattimura menyediakan banyak kenderaan umum seperti taksi dan bus, dengan durasi perjalanan ke pusat kota berjarak sekitar 38 kilometer dapat ditempuh dalam satu jam. Sepanjang perjalanan di jalan berbukit-bukit, mata akan dimanjakan dengan panorama menawan dari teluk Ambon. Sebagai perbandingan, bila menggunkan taksi ke pusat kota, biayanya berkisar antara Rp. 125.000-Rp.180.000, sedangkan bila menggunkan bus hanya Rp. 25.000.

Ambon juga memilki berbagai jasa penyewaan mobil dengan tarif bervariasi, tergantung jenis kenderaannya mulai Rp. 450.000 untuk Toyota Avanza atau Suzuki Xenia, sudah termasuk supir dan bensin selama 12 jam per hari.

Akomodasi


Amaris Hotel klik disini www.amarishotel.com/amaris-ambon
Swiss-Belhotel klik disini www.swiss-belhotel.com
Hotel Marina klik disini www.ambonmarina.com

Sumber : Buku Pesona Indonesia versi Pesona Maluku dan Papua (hadiah dari #pesonaindonesia #recoverysarinah)

Share Artikel ini Jika Bermanfaat Sahabat Ransel

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment