Lembah Baliem, Negeri di atas Awan Papua

Hidup berdampingan dengan alam merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi sebagian orang, karena tidak merusak alam dan lingkungan, dan tentunya anak cucu kita akan menikmati hal yang sama dengan kita dan bukan hanya mendengar sebuah cerita.

Di Indonesia, masih banyak wilayah dan pedesaan yang masih mempunyai kecintaan terhadap alam, sebut saja suku badui di Banten, Wae Rebo di Flores dan Lembah Baliem di Papua.

Sekilas Tentang Lembah Beliem


Lembah Baliem merupakan sebuah lembah di pegunungan Jayawijaya, diatas ketinggian 1.600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi oleh pegunungan dengan pemandangan yang masih indah dan alami.

http://mandiriransel.blogspot.co.id/2015/12/lembah-baliem-negeri-di-atas-awan-papua.html
Sumber Image : Facebook
Lembah baliem memang sangat indah. Hamparan tumbuhan yang menghijau tampak seperti permadani. Air sungai mengalir tampak begitu jernih, rumah-rumah suku dani (honoi) yang berjajaran menambah eksotis pemandangangan.

Baca Juga : Berani!!! Menelusuri Goa Para Arwah


Dan uniknya, di setiap hanoi hampir memelihara babi dan babi-babi tersebut berkeliaran tanpa ada rasa takut terhadap manusia. Begitulah kehidupan suku dani yang ada di lembah Baliem. Lembah Baliem memang seperti negeri dongeng.

Selain keindahan alam dan keunikan suku penghuni baliem, disini juga anda dapat menemukan festival tahunan yang sudah melegenda dan mendunia. Dan rutin dilaksanakan setiap bulan Agustus.

Fakta-Fakta tentang Lembah Baliem


Tahu gak sahabat? Ternyata di lembah baliem mempunyai beberapa fakta yang unik dan bahkan kamu akan mengkerudkan dahi jika mengetahuinya. Berikut fakta tentang lembah baliem yang unik dan mempesona :

1. Sebagai Pusat Agama Islam dan Pendidikan Agama Islam Terbesar di Papua



Pasti kamu sudah tahu bahwa mayoritas penduduk papua menganut agama non muslim. Berbeda dengan di dsitrik walesi papua, masyarakatnya sebagian besar menganut agama islam dan menjadi pusat pendidikan agam islam bagi suku dani. Hal ini dapat dibuktikan dengan terdapat sebuah madrasah psantren yang berumur tua.

2. Atraksi Drama Perang Antar Suku di Festival Lembah Baliem


Festival lembah Baliem merupakan acara perang antar suku Dani, Lani dan Yali. Perang ini bertujuan untuk "Yogatok hubuluk motog hanaro yang artinya harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini". Acara ini dilaksanakan setiap bulan Agustus menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia selama 3 hari.

3. Tradisi potong jari dan mandi lumpur sebagai bentuk ungkapan kesedihan


Ungkapan rasa sedih atau kehilangan anak sekeluarga bagi suku Dani di lembah Baliem yaitu dengan potong jari yang diartikan sebagai simbol dari rasa sakit dan pedih yang mereka rasakan. Pemotongan jari ini dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai dari memotong dengan benda tajam, digigit hingga putus atau menggigitnya atau dengan cara yang lainnya. Tetapi sekarang sudah mulai ditinggalkan sesuai dengan perkembangan zaman.


4. Pesta Bakar Batu menjadi Bukti Kerukunan Warga di Lembah Baliem


Pesta ini diadakan ketika mendapati kelahiran, pernikahahn, upacara kematian, syukuran, atau euforia setelah perang. Dan uniknya untuk menyalakan api tidak menggunakan korek api atau sejenisnnya melainkan dengan menggesek-gesekkan dua buah kayu hingga menimbulkan api, dan kemudian digunkan untuk membakar batu. 

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment